Senin, 13 November 2017

Ketika Rindu ku kepada Ayah Selalu Datang

11 Oktober 2006 di Bulan Ramadhan.

waktu menunjukan pukul 3 sore WIB. waktu itu aku masih duduk di bangku kelas 4 SD. Sepulang sekolah, di sore hari yang cerah, aku bermain lompat tali bersama kawan kawan ku. Biasanya, waktu sore hari aku selalu menghabiskan waktu ku bersama teman-teman. Tertawa, bercanda, bermain, sehingga aku lupa bahwa aku sedang bersedih. sampai pada akhirnya telfon rumah ku berdering. Mama ku selalu menelfon ke rumah pukul 4 sore untuk menanyakan ku maupun adik ku. Pengasuhku memanggil ku dan memberikan telfon nya pada ku. Mama bertanya apa yang sedang ku lakukan, sudah makan atau belum, sudah mandi atau belum dan sebagainya. sampai pada ketika mama ku memberitahu keadaan papa ku yang sudah lama sekali terbaring sakit dirumah sakit akibat penyakit jantung koroner yang sangat parah dan diabetes. mama ku bilang, papa katanya rindu. aku pun cemberut mendengar mama berkata sepertri itu. rindu ku semakin memuncak. sudah 6 bulan lama nya aku tidak bertemu papa yang sedang terbaring sakit. aku pun membalas perkataan mama ku. "aku juga kangen papa mah. papa kapan pulang kerumah? besok aku boleh ya ketemu papa." lalu Mama berkata "secepatnya papa pulang ya nak. doakan papa jam 5 sore nanti papa akan operasi yang ke 3 kalinya". seketika jantungku berdegup kencang. rasanya aku ingin menangis. dengan spontan ku tutup telfon nya lalu aku menitihkan air mata. kesenangan ku ketika bermain menjadi buyar. aku memutuskan untuk mengakhiri permainan, kemudian aku memutuskan untuk mandi sore. Tak lama kemudian telfon ku berdering. pengasuhku menangis ketika menerima telfon. aku pun bingung. seketika ku bertanya kepada pengasuhku. "kenapa mba? papa ya? papa kenapa?" dengan polosnya aku bertanya. lalu ia menjawab "papa nanti pulang kak. dengan gembira hati ku berkata "akhirnya papa pulang!!. berarti papa ga jadi operasi ya mba? papa udah sehat ya?". kepolosan ku menambah tangis pengasuhku. aku memanggil adik ku oksan yang masih berumur 5 tahun. "adek, adek papa mau pulang. nanti kita jalan jalan lagi ya ke Mall depok sama ke taman bunga". aku pun dan adik ku sangat gembira.
waktu sudah menunjukan pukul 6 sore. waktunya buka puasa. aku melahap makanan ku dan meminum segelas es teh. setelah beberapa menit aku melahap makanan ku, tiba tiba toa masjid berkumandang "Inalillahi wa innailaihi roji'un..."
lututku terasa lemas mendengar kabar duka cita tersebut. pengasuhku menangis sambil memeluk ku dengan erat. namun aku belum bisa mengeluarkan air mata ku. jantung ku terasa berhenti. masih tidak percaya akan kabar duka cita tersebut yang menyebutkan lengkap nama papa ku. adiku yang masih kecil pun belum mengerti. dalam dekapan pengasuhku aku melihat adik ku yang masih dengan ekspresi senang nya. ketika telfon rumah berdering, aku baru bisa menangis. menangis sekencang kencang nya. harapan ku terasa musnah untuk bisa kembali bercengkrama dengan papa. papa ku sudah pergi... benar ia akan pulang.... sangat benar. pulang bertemu kami untuk yang terakhir kalinya. aku hanya terdiam di ruang tamu sambil memegang tangan adik ku sementara pengasuhku repot mengurus segala sesuatu yang harus dipersiapkan dengan bantuan tetangga. aku mengajak adik ku mesuk ke dalam kamar orangtua ku. kami mengintip lewat jendela. tenda, bendera kuning, kursi plastik berwarna hijau yang sedang ditata membuat aku semakin lemas. ketika aku menangis, adik ku lalu ikut menangis. aku kira dia tidak mengerti. ternyata ia paham bahwa kami sudah tidak punya sosok papa. kami menanti kedatangan nya. suasana rumah ku sudah kelam walaupun ramai.
pukul 9 malam WIB, ambulance membisingkan telingaku. aku dan adiku berlari keluar rumah dan melihat ayahku sudah terbungkus kain kafan. suara tangis terdengar dari semua keluarga ku. aku pun tidak bisa berkata kata lagi selain mengucap "Aku mau ikut papa" dengan berulang kali. semua orang memeluk ku dan adik ku. aku belum ikhlas melihat papa ku pergi. selama 6 bulan, aku hanya bisa melihat ia dari foto maupun video yang di rekam oleh mama ketika di rumah sakit tanpa bertemu. mengapa aku tidak bisa bertemu? umur ku yang masih kecil, begitu pula adik ku, tidak diperbolehkan untuk menjenguk pasien yang sakit. Kebetulan papa ku dirawat di Rumah sakit jantung harapan kita. aku menjenguk papa kerumah sakit hanya 2 kali dalam sebulan dan hanya bisa bertemu beberapa menit saja dengan ia turun ke lobby menggunakan kursi roda nya. karena aku dan adik ku sekolah jadi kami tidak bisa selalu menjenguk nya setiap hari. terlebih kami juga jarang bertemu mama. karena mama sibuk menjaga dan menemani papa. setiap pulang kerja mama selalu mampir ke rumah sakit. aku dan adik ku hanya bertiga di rumah bersama dengan satu orang pengasuh. setiap mama pulang, mama selalu menunjukan foto papa sedang terbaring dengan banyak selang di dada serta perban di bagian kaki kiri nya. walaupun papa menggunakan oksigen tetapi aku masih bisa melihat senyum papa. di dalam sakit nya papa masih bisa tersenyum. sehingga aku berfikir bahwa ia sedang tidak merasakan sakit. begitu pula dengan video yang direkam oleh mama. papa selalu berakata "raras... oksan... belajar yang bener ya nak... jangan main terus. berdoa buat mama buat papa. solat nak... jangan ditinggal. puasanya harus pol ya. jangan bolong bolong. oksan juga nanti klo papa sembuh kita main dingdong ya nak. papa mau tidur dulu, papa sudah makan pisang tadi. papa juga sudah banyak minum. dadah nak" video yang berberdurasi beberapa detik itu selalu mengingatkan ku. selebihnya papa sudah tidak bisa muncul ke dalam sebuah video karena suara nya semakin tidak jelas. hingga setahun kemudian berlalu aku menemukan selembar foto lama papa ku di kamar adik ku yang di belakang nya tertulis...



aku pastikan bahwa aku menangis ketika aku menemukan foto ini di box mainan adik ku begitu pula mama yang menitihkan air mata ketika ku tunjukan secarik foto tersebut. rindu ku semakin menjadi jadi. dengan polos nya adik ku menulis kan bahwa ia rindu dengan papa nya. anak kecil yang berumur 6 tahun. sampai sekarang foto itu kusimpan dengan baik.

Alm. papa adalah sumber semangat belajarku. ketika mama ku selalu marah setiap kali aku mendapat nilai jelek, papa selalu membantu aku untuk mengulang pelajaran yang selalu aku tidak mengerti disekolah. papa adalah sosok papa yang sabar dan seumur hidup nya tidak pernah sama sekali memarahi ku. ia mengajarkan aku banyak hal. aku dekat sekali dengan sosok papa ku ini begitu pula adik ku. kami sangat menyayangi papa. begitu pula mama. hatiku terasa ter iris ketika aku sadar bahwa aku telah kehilangan seseorang yang sangat berarti di hidup ini. kini, aku hanya mempunyai seorang mama yang rela bekerja banting tulang dari pagi hingga malam hanya untuk menghidupi kami. mama adalah sosok mama sekaligus papa. ia yang sekarang menjaga kami berdua. aku sangat mengagumi mama. walaupun mama hanya seorang single parent selama 12 tahun ini tetapi, ia selalu giat bekerja, tidak mudah menyerah, menjalani semua pahit nya hidup, dan menomor satukan kami berdua dibandingkan mencoba untuk menikah lagi dengan orang lain. karna baginya harta yang terpenting adalah aku dan adik ku. terlebih mama bilang bahwa tak ada seorang pun yang bisa menggantikan sosok papa. aku salut sekali dengan mama ku. dia bagaikan insirasi ku. sekarang aku lebih banyak belajar dari mama. kini sudah 12 tahun lama nya kami hidup tanpa seorang papa. terkadang aku iri dengan teman-teman ku. terlebih ketika mereka masih memiliki orang tua yang lengkap. yang ada di benak ku adalah "andai aku masih punya papa, yang menelfon ku untuk menanyakan apa aku sudah pulang kuliah atau belum, menanyakan bagaimana kuliah ku, menanyakan apa aku sudah makan atau belum, dan lain sebagainya

hari ini adalah hari Senin tanggal 13 November 2017.
aku menuliskan blog ini dengan mencurahkan kesedihan yang setiap kali selalu datang tiba tiba karena aku merindukan sosok ayah. doa pun tak pernah lupa ku kirimkan. aku selalu menganggap bahwa papa ku adalah seseorang yang sangat berarti. walaupun raga nya sudah tidak bersama kami.

aku percaya bahwa papa bisa melihat kami. anak anak nya yang sudah tumbuh dewasa, sudah mengerti banyak hal, banyak belajar untuk meraih cita-cita. berusaha menjadi anak yang baik dan patuh terhadap mama. bisa menjaga mama dan terus bersemangat menghadapi apapun. dan papa pasti tahu, bahwa kami sangat mencintainya dan merindukan nya.

salam rindu ku untuk ayah. - Sekar Raras Ichsanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar